Tumbuh Bersama Krisis Sampah

 Oleh : Stefanus Renaldy



Indonesia menghasilkan 67,8 juta ton sampah pada 2020. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), 37,3% sampah di Indonesia berasal dari aktivitas rumah tangga. Dengan banyaknya sampah yang dihasilkan Indonesia, namun kurangnya penanganan terhadap sampah membuat indonesia bisa dikatakan sedang berada dalam krisis sampah. Makin banyak sampah yang bertumpuk makin buruk juga lingkungan hidup bagi manusianya.

Lingkungan hidup yang buruk sangat dirasakan anak kecil, terutama anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Bisa dibayangkan sedari kecil pemandangan yang dilihatnya hanyalah tumpukan sampah dan kubangan sampah. Lingkungan hidup yang buruk juga berdampak bagi kesehatan terutama nutrisi dan infeksi penyakit. Menurut data Kementrian Sosial 6 dari 10 anak yang tinggal di lingkungan yang buruk menderita malnutrisi karena kurangnya asupan makanan yang layak, dan anak yang tumbuh di lingkungan ini sering terserang tipus dan malaria lebih mudah.

Sebagai sesama warga negara Indonesia kita harusnya merasa sedih karena saudara kita tidak dapat memiliki taraf hidup yang baik, penanganan terhadap masalah  krisis sampah ini tidak dapat dilakukan seorang diri. Dukungan dari kita dan pemerintah sangat dibutuhkan, terutama terciptanya sistem penanganan sampah dan daur ulang yang baik.

Peran kita untuk menolong anak-anak ini dapat dimulai dari hal yang kecil seperti membatasi penggunaan plastik dan mendaur ulang sampah kita. Mungkin terasa tidak ada artinya, namun sebenarnya pengurangan satu sampah berarti berkurang satu lagi sampah yang akan dilihat oleh anak-anak kecil ini.

 


Komentar