Politik Bagi Pemuda

        Tahun 2024 semakin dekat, aroma pertarungan politik di Indonesia semakin tercium dengan jelas di berbagai media.
Untuk kaum muda atau generasi millenial, sudahkah kalian menentukan pilihan? Atau masih bersikap apatis dengan politik?
Mari kita lihat, mengapa sebagai kaum muda, kita harus terlibat dalam politik.
       Terlibat dalam politik bukan hanya menjadi kepala daerah, anggota DPR/DPRD , MPR, Presiden, atau menjadi bagian dari partai politik.

       Turut memberi suara untuk menentukan pilihan dalam pemilihan umum pun merupakan keterlibatan kita dalam partai politik.Kalau kaum muda bersikap apatis terhadap politik, kemudian enggan memberikan suaranya maka keputusan itu akan menentukan nasib banyak orang bukan hanya kaum muda selama 5 tahun ke depan.

        Mau tidak mau, suka tidak suka,tongkat estafet politik di negeri ini ada di tangan pemudanya. 

        Kalau semua anak muda enggan berpolitik, maka siapa yang akan melanjutkan semuanya kelak? 

        Berpolitik bukan hanya menjadi tugas dan tanggung jawab yang tua saja, tapi anak muda juga harus terlibat, untuk menyuarakan aspirasinya agar didengar dan diwujudkan.

        Menurut data BPU(Badan Pemilihan Umum) hanya 36% pemuda Indonesia yang mengikuti Pemilu 2019 dan memberikan hak suaranya secara sah. Angka tersebut cukup rendah bila dibandingkan dengan negara tetangga Singapura yang mencapai 83% partisipasi.

        Banyak cara telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan antusiasme pemuda dalam berpolitik diantaranya sosialillsasi dan berbagai gerakan-gerakan pemuda.

        Harusnya, masing-masing pemuda memiliki kesadaran sendiri akan pentingnya memberikan hak pilih dan menentukan masa depan bangsa, ikut dan terjun langsung mengawasi jalannya politik di Indonesia. Pemuda merupakan tolak ukur masa depan bangsa diharapkan dengan meningkatnya kesadaran pemuda maka dapat meningkatkan kesadaran politik masyarakat secara menyeluruh.

Komentar